KONSEP DESA WISATA SYARIAH

Oleh : Saifudin, M.E.

(Dosen Fak. Ekonomi & Ilmu Sosial Universitas Sultan Fatah)

 

Desa wisata merupakan sebuah bentuk penyesuaian antara akomodasi, atraksi dan fasilitas yang mendukung untuk disajikan pada suatu struktur yang menyatu pada kehidupan masyarakat. Dengan tata cara yang berbeda dan tradisi yang berlaku. Perkembangan jaman yang begitu cepat mempengaruhi suatu daerah untuk membangun desanya sebagai tempat wisata, sekalipun mereka belum memiliki konsepnya. Oleh karena itu memiliki desa wisata yang menarik harus mempunyai konsep yang baik pula. Konsep yang matang itulah yang diperlukan untuk menciptakan desa wisata yang menarik untuk dikunjungi.

Pada awalnya para sarjana (scholars) memandang perjalanan wisata (travel) di luar makna spiritual, devoid of spiritual meaning. Boorstin dan Lowenthal menyatakan bahwa perjalanan wisata (travel) tidak memberi makna bagi dirinya. Para wisatawan termasuk orang-orang “kaya yang egois.” Mereka berwisata ke negara-negara yang secara teknologi sudah maju dan tinggal di hotel mewah. Mereka tidak menemukan makna hidup yang sebenarnya. Belakangan ini pandangan tersebut dibantah oleh para  sarjana (ahli) lainnya, disebutkan beberapa, seperti Franklin, Crang, MacCannell, Uriely, Dann, Cohen, McIntosh, Smith,  Timothy  dan  Conover. Para ahli tersebut menyatakan bahwa pariwisata atau perjalanan wisata memberikan makna positif bagi wisatawan.  “Tourism  is  viewed  as not  merely  ‘physical’; it includes an array of  mental  and  spiritual experiences.” Pitana menyatakan bahwa  sebenarnya wisata spiritual telah hadir di bumi sejak berabad-abad lalu. Wisatawan spiritual (spiritual tourists) berwisata ke suatu tempat untuk mencari kedamaian dan keharmonisan (peace and harmony), dan mereka kebanyakan orang yang berpendidikan, peduli pada budaya, peduli pada alam dan lingkungan, dan tidak mengganggu siapa pun (I Ketut Sutama,,2013).

Kabupaten Demak Provinsi Jawa Tengah memiliki potensi wisata yang beraneka ragam mulai dari wisata alam, wisata kuliner, wisata bahari, wisata desa dan lain sebagainya. Salah satu potensi wisata yang berkembang saat ini adalah wisata religi dan ziarah. Di Jawa makam para penyiar agama telah lama menjadi obyek kunjungan. Wisata ziarah memiliki dampak ekonomi dan pengembangan keberagamaan yang tidak dapat diabaikan. Di Indonesia ziarah dalam arti kunjungan ke makam ternyata sejalan dengan apa yang sudah ada terlebih dahulu yaitu kebiasaan mengunjungi candi atau tempat suci lainnya dengan maksud melakukan pemujaan roh nenek moyang. Pada zaman dahulu ziarah dipahami yaitu untuk meneruskan kebiasaan lama, yaitu pemujaan selain Allah yang kemudian dilarang dalam ajaran Islam (Soekmono, 1973).

Arti penting wisata syariah yang dimaksud disini bukan hanya bersenang-senang dan mencari  hiburan saja artinya bersenang-senang dan mencari hiburan diperbolehkan dan halal tetapi yang lebih penting adalah memperluas wawasan untuk menyaksikan ayat-ayat kebesaran Allah yang tersebar di persada bumi ciptaan Allah ini, seperti mengunjungi masjid bersejarah atau makam orang saleh sebagai wisata rohani atau wisata spiritual. Dengan menyaksikan keindahan alam kemanapun mata memandang dapat merasakan wisata rohani yang indah, dan mata hati dapat melihat dengan jelas keindahan sang pencipta, pelukis agung yang Maha Indah.

Ada hal menarik dari wisata religi Islam yaitu kegiatan ziarah yang dijadikan sebagai salah satu kegiatan keberagamaan dan memiliki makna psikologis bagi para peziarahnya. Hal ini dilihat dari beberapa hasil penelitian, sebagian besar para peziarah melakukan ziarah ketika mereka mengalami kegundahan, kesedihan, kegalauan, bahkan putus asa. Usai berziarah mereka merasa mengalami suatu pencerahan, semakin merasa dekat dengan Allah, semakin optimis menjalani kehidupan, dan beban hidup terasa lebih ringan. Kondisi demikian memengaruhi upaya untuk menemukan jalan keluar atas permasalahan yang sedang dihadapi (Yuliatun, 2015).

Dengan perkembangan jaman yang semakin hari semakin membutuhkan pembaruan, maka dari itu pertumbuhan sebuah desa juga memerlukan konsep yang menarik dari hari ke hari agar para wisatawan tidak jenuh dengan keadaan desa wisata yang itu-itu saja. Sehingga konsep sebuah desa wisata akan terasa segar dan akan terus menawarkan hal yang baru. Pengelola juga harus melakukan pembaruan atau inovasi agar selalu terlihat menarik untuk dikunjungi.

Oleh sebab itu sebuah desa wisata harus memiliki pengembangan konsep untuk terus bergerak dalam pembaruan agar wisatawan yang pernah datang, akan datang dan terus datang lagi. (Red-18).

Jadi yang Pertama Berkomentar

Tinggalkan Balasan